• : 031-5020306, 031-5021451
  • : 031-5020388
  • : bblksub@yahoo.co.id
  • : Jl. Karangmenjangan 18, Surabaya 60286

WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !

WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !

23 April 2019 / By Administrator,

Kenali gejala, diagnosis dan pengobatan difteri

 
Oleh
dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
BBLK Surabaya

 

Difteri adalah penyakit menular akut pada manusia yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan kadang-kadang kulit, yang disebabkan oleh racun difteri yang dihasilkan oleh Corynebacterium diphtheriae strain toksigenik. Bakteri ini ditularkan melalui droplet atau tetesan selama kontak erat. Bakteri menghasilkan racun yang dapat menyebabkan komplikasi. Corynebacterium lain, yaitu C. ulcerans dan C. pseudotuberculosis, juga dapat menghasilkan racun difteri, meskipun strain toksigenik berasal dari spesies yang berbeda dan memiliki rute penularan yang berbeda1.

Gejala yang ditimbulkan penyakit ini antara lain demam, sakit tenggorokan, kelemahan dan pembengkakan kelenjar di leher. Racun bakteri akan merusak jaringan sehat dalam sistem pernapasan. Waktu dua sampai tiga hari, jaringan mati membentuk lapisan abu-abu tebal yang dapat menumpuk di tenggorokan atau hidung. Ahli medis biasa menyebut lapisan berwarna abu dan tebal sebagai "pseudomembran." Lapisan ini dapat menutupi jaringan di hidung, amandel, pita suara, dan tenggorokan, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan menelan. Racun juga dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan kerusakan pada jantung, saraf, dan ginjal sehingga berakhir kematian. Sekitar 1 dari 10 pasien difteri meninggal, meskipun dengan pengobatan. Sedangkan, setengah dari pasien dapat meninggal bila tidak mendapat pengobatan2.

Dokter dapat segera melakukan diagnosis penyakit difteri dari gejala klinis. Untuk kepastian atau konfirmasi diagnosis, dokter akan mengirim bahan atau spesimen berupa usap tenggorok atau usap hidung untuk pemeriksaan kultur bakteri ke laboratorium mikrobiologi. Gejala di kulit pun juga akan dikonfirmasi dengan pengiriman bahan usap kulit. Bahan atau spesimen tersebut akan dilakukan penanaman pada media khusus difteri. Setelah masa inkubasi, apabila didapatkan pertumbuhan, maka bakteri akan diidentifikasi sebagai bakteri Corynebacterium diphtheriae atau bakteri lain. Pengujian pun dilanjutkan setelah terkonfirmasi untuk melihat bakteri sebagai strain toksigenik atau tidak. Pemrosesan di laboratorium mikrobiologi membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari dan akan didapatkan hasil berupa nama bakteri beserta status toksigeniknya3.

Vaksin toksoid difteri dapat melindungi secara efektif terhadap efek racun yang diproduksi oleh bakteri C. diphtheriae. Imunisasi merupakan satu-satunya metode efektif untuk mencegah penyakit difteri. Mencapai dan mempertahankan cakupan vaksinasi yang tinggi dalam populasi sangat penting untuk mencegah difteri toksigenik yang menyebabkan penyakit serius atau fatal. Selain itu, perhatian khusus harus diberikan kepada wisatawan, petugas kesehatan, dan pekerja sosial.

Jika kecurigaan kasus difteri terjadi, pemeriksaan gejala klinis harus segera dilakukan, kemudian diikuti dengan konfirmasi laboratorium dan pengobatan, termasuk investigasi cepat serta manajemen kontak erat. Jika ada kecurigaan yang kuat terhadap penyakit C. diphtheriae toksigenik, pemberian anti racun difteri secara dini sangat penting untuk kelangsungan hidup4.

Pengobatan difteri saat ini antara lain antitoksin difteri untuk menghentikan racun (toksin) yang diproduksi oleh bakteri yang merusak tubuh dan antibiotik untuk membunuh bakteri. Penderita difteri tidak akan menularkan kepada orang lain setelah 48 jam minum antibiotik. Namun, pengobatan antibiotik harus sepenuhnya selesai untuk memastikan bahwa bakteri telah mati. Setelah pasien menyelesaikan pengobatan, dokter akan melakukan tes untuk memastikan bakteri sudah tidak ada dalam tubuh pasien lagi2.

 

Daftar Pustaka :
1.Brooks GF, Carroll KC, Butel JS, Morse SA, Mietzner TA. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. 26th edn. 2013.The McGraw-Hill companies. USA.
2.https://www.cdc.gov/diphtheria/about/causes-transmission.html
3.Mahon CR, Lehman DC, Manuselis G. Textbook of diagnostic Microbiology. 5th edition. 2015. Saunders Elsevier. Missouri.
4.European Centre for Disease Prevention and Control. Diphtheria. In: ECDC. Annual epidemiological report for 2016. Stockholm: ECDC; 2018.